Selasa, 13 Agustus 2013

Masa Anak-Anak



Masa ini disebut juga Masa Anak Sekolah, masa matang untuk belajar, maupun masa matang untuk sekolah. Di sebut masa anak oleh karena anak-anak itu sendiri tidak mau lagi di anggap atau diperlakukan sebagai kanak-kanak atau anak kecil. Disebut Masa Anak Sekolah, karena merasa sudah menamatkan Taman Kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan yang sebenarnya. Di sebut masa matang untuk bersekolah, karena mereka sudah menginginkan kecakapan-kecapan baru, yang dapat diberikan oleh sekolah.  Sebagai hasil dari pemberian bantuan yang diberikan oleh keluarga dan Taman Kanak-kanaknya, pada masa ini anak telah mengalami masa perkembangan-perkembangan yang membantu anak untuk dapat menerima bahan yang di ajarkan oleh gurunya. Antara lain sbb :
1.      Perkembangan sifat sosial anak
Sebenarnya sifat ini adalah sifat kodrat yang di bawa oleh anak sejak lahir, mula-mula berkembang terbatas dalam keluarga, yang makin lama bertambah luas. Dengan masa menentang anak mulai kurang puas hanya bergaul dengan keluarga dan ingin memperluasnya dengan anggota masyarakat terdekat. Ia mulai mencari teman-teman sebaya untuk berkelompok dalam permainan bersama, makin lama ruang lingkup pergaulanya makin meluas.

2.      Perkembangan perasaan
Anak yang semula hanya merasakan senang dan sedih, makin lama perasaan itu terideferensiasi menjadi menjadi perasaan-perasaan :

a.       Menyesal
b.      Kasihan/iba
c.       Marah
d.      Jengkel
e.       Simpati
f.        Bersalah
g.       Wajib dan sebagainya

3.      Perkembangan Motorik 
Perkembangan motorik inilah yang memungkinkan anak dapat melakukan segala sesuatu, yang terkandung dalam jiwanya, dengan sewajarnya. Dengan perkembangan mototrik itu anak makin kaya dalam bertingkah laku, sehingga memungkinkan anak memperkaya perbendaharaan mainannya bahkan memungkinkan anak memindahkan aktivitas bermainanya, kreativitas belajar dan bekerja memungkinkan anak dapat melakukan perintah, memungkin anak melakukan kewajiban, tugas-tugas, bahkan keinginan-keinginanya sendiri.

4.      Perkembangan bahasa
Dengan makin berkembangannya pergaulan anak di luar keluarga, di dalam permainan dalam kelompok memberi kesempatan kepada anak untuk memperkaya perbendaharaan bahasa, baik secara pasif, yait menerima ekpresi jiwa orang lain, maupun secara pasif, yaitu menyampaikan isi jiwanya kepada orang lain. Inilah sebabnya, mengapa bahasa disebut sebagai alat penghubung sosial.
Oleh karena itu keluarga atau Taman Kanak-kanak yang baik akan berusaha agar anak mengalami perkembangan bahasanya dengan baik pula. Mereka, orang tua atau guru itu akan melatih anak-anaknya agar mendengar suruhan atau perintahnya sebaik-baiknya, kemudia meminta kepada anak-anaknya untuk melakukanya. Dengan demikian pula kalau orang tua atau guru itu terpaksa atau harus melarang anak melakukan sesuatu, misalnya karena adanya bahaya. Sebagai kontrol apakah anak sudah benar-benar mengerti apa yang dikehendaki atau di perintah/larangan bagi anak, untuk itu orang tua/guru dapat membantu

5.      Perkembangan pikiran
Perkembangan pikiran selalu setingkat dan sejalan dengan perkembangan sosial, bahasa dalah alat untuk berpikir. Karena itu sering dikatakan bahwa berpikir adalah berbicara yang tak di ucapkan dan bercakap adalah berpikir yang di ucapkan. Dengan demikian mudah dimengerti, betapa pentingnya orang tua/guru melatih anak untuk menggunakkan bahasa dengan teratur, pada masa ini anak baru berada dalam tingkat berpikir konret. Artinya pikiranya masih erat hubunganya dengan benda atau keadaan-keadaan nyata.
Ini sebabnya mengapa pada waktu anak belajar di Taman Kanak-kanak, di mutlakkan anak-anak belajar berhitung harus dibantu dengan alat peraga secukupnya. Kata secukupnya mengandung arti tidak boleh terlalu banyak. Karena sedikit demi sedikit anak harus dituntun untuk dapat berhitung secara abstrak.

6.      Perkembangan pengamatan

7.      Perkembangan kesusilaan/agama
Perkembangan kesusilaan dan agama, sangat bergantung kepada penghayatan keluarga terhadap norma-norma kesusilaan dan agama keluarga anak itu sendiri, artinya anak bukan akan mengalami perkembangan kesusilaan dan agama seperti yang di harapkan, dianjurkan atau diperintahkan oleh orang tuanya, melainkan anak akan mengalami perkembangan itu menurut bagaimana keluarga berbuat tentang norma-norma kesusilaan dan agama itu.
Anak tidak akan bersungguh-sungguh melakukan sesuatu peraturan, bila tidak semua anggota keluarga itu melakukanya. Hal ini terjadi oleh karena pada diri anak terkandung kesangsian akan kebenaran dan keharusan untuk dipatuhinya peraturan itu.
Demikian halnya, serang anak akan tumbuh menjadi anak yang nakal (Mbandel), apabila orang tua kurang tegas memerintahkan sesuatu keharusan. Ketegasan bukan selalu kekerasan, melainkan penurutan yang harus dilakukan dengan benar-benar sesudah sesuatu perintah atau anjuran dilakukan. Kalau perlu orang tua sendiri memberi contoh dan melatih benar-benar dengan sebab-musababnya, sehingga anak mengerti benar-benar mengapa seluruh keluarga melakukan hal itu semuanya.      
       
8.      Perkembangan tanggapan
Makin berkembang anak makin kaya ia akan tanggapan-tanggaan, pengalaman dari hubungan yang di pahami dari daya pikirnya. Sehingga hubungan antar satu dengan yang lain tedapat kaitan yang logisdan dalam perkembangan anak akan mampu menentukn hubungan sebab-akibat.

9.      Perkembangan fantasi
Sejak anak bersekolah perhatiannya terhadap kenyataan mulai berkembang dan tampak pula pada anak bahwa fantasi dalam permainan mulai mundur. Tetapi kemundurannya bukan untuk lenyap meainkan mencari lapangan baru untuk berkembang, dengan buku-buku dan cerita-cerita itu anak dibawa ke dunia lain dari kehidupan sehari-hari. Fantasinya memberikan kesempatan kepadanya untuk menghayati semua yang diceritakan orang dan dibacanya, seakan-akan semuanya benar-benar. Sering anak itu menempatkan dirinya sebagai pelaku utama,  sebagai pahlawan dalam kisah-kisah itu. Ia ikut menghayati suka duka dalam cerita-cerita tesebut.

10.     Perkembangan mengambil keputusan
Jika pada masa kecil anak hanya mampu mengambil keputusan secara sederhana, misalnya : panas-dingin, buruk-baik, enak-tidak enak, dan sebagainya, makin lama anak makin dapat membedakan sesuatu atas beberapa keputusan. Hai ini menunjukkan adanya kemampuan untuk mengadakan diferensiasi pula dalam mengambil keputusan. Misalnya : buruk sekali, agak buruk, hampir buruk, kurang baik, sedang baik, dan baik sekali.

11.     Perkembangan perhatian
Perhatian termasuk salah satu faktor kemampuan psikis yang dibawa sejak lahir dan berkembangnya ditentukan pula oleh faktor-faktor endogen dan faktor-faktor eksogen. Salah satu bukti bahwa ada perkembangan dalam perhatian adalah bahwa pada anak kecil baru dapat berinstropeksi, belum dapat menginstopeksi sedang orang dewasa sudah dapat keduanya.
12.     Perkembangan estetika
Estetika adalah suatu kemampuan jiwa yang dipergunakkan untuk menentukkan sesuatu dengan ukuran bagus/tidak bagus atau indah/tidak indah. Kemampuan ini juga merupakan kemampuan kodrat. Perkembanganya juga ditentukkan oleh faktor endogen dan faktor eksogen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar